Bersepeda dari Makassar, Flores, sampai Pulau Rote

Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah lama menjadi destinasi trip yang saya inginkan. Setelah kunjungan pertama ke Labuan Bajo pada 2022, saya selalu ingin balik lagi, tapi dengan cara yang “berbeda”. Kali ini saya tertarik dengan perjalanan yang lebih santai, yaitu dengan bersepeda!
Provinsi ini terbentang di lebih dari 560 pulau, terbagi ke 22 kabupaten/kota, dengan daratan besar seperti Flores, Timor, Sumba, Alor, dan Rote yang membentuk rantai panjang di ujung timur Indonesia. NTT sepertinya cocok dijuluki wilayah yang enak dijelajahi tanpa buru-buru. Perjalanan di sini sangat bergantung pada kapal/ferry (untuk penyebrangan antar pulau) dan jadwal yang bisa berubah karena cuaca.
Trip bersepeda bukan hal baru buat saya. Tapi di tengah ritme kerja sehari-hari, saya cuma bisa bersepeda jarak panjang di akhir pekan.
Setelah sempat menyusun rencana, saya memutuskan menjalani trip ini setelah perjalanan ulang tahun saya ke Sulawesi Selatan. Sepeda bahkan sudah saya kirim duluan ke rumah teman di Makassar.
Rencananya sederhana: berangkat dari Makassar naik kapal PELNI, tiba di Maumere, lalu bersepeda ke arah timur menyusuri pantai utara Flores sampai Larantuka. Dari sana lanjut lagi dengan PELN ke Kupang, untuk kemudian menyeberang ke Pulau Rote, lalu balik ke Kupan. Setelahnya, menutup perjalanan dengan terbang ke Jawa, sambil sepeda dipulangkan terpisah.
Dalam praktiknya, seperti banyak trip darat yang bagus di Indonesia, rute dan rencana sangat bisa berubah. Saat itu, Gunung Lewotobi meletus. Abu menutupi beberapa bagian jalan. Dan banyak hal-hal yang harus disesuaikan dalam perjalanan. Ketidak pastian ini, justru yang bikin perjalanan ini terus membekas.
Overview
- Berangkat dari Makassarß
- Menyeberang ke Maumere dengan kapal PELNI
- Saat hal tak terduga datang: Gunung Lewotobi erupsi lagi
- Bersepeda di pantai utara Flores
- Larantuka: tenang, dekat laut, dan bikin ingin tinggal lebih lama
- Rute penyebrangan laut
- Tiba di Kupang
- Sampai di Pulau Rote
- Tips praktis bawa sepeda untuk trip di Indonesia
- Membawa sepeda di kapal
Berangkat dari Makassar

Pada 1 Agustus 2025, saya naik KM Siguntang dari Makassar untuk penyeberangan panjang menuju Maumere Dengan ajrak tempuh sekitar 20 Jam.
Saya selalu suka kapal penumpang Indonesia (PELNI). Sebagai orang Indonesia, yang mana 2/3 wilayah kita adalah perairan, naik Kapal laut adalah representasi sesungguhnya bagaimana sebagian banyak dari kita bepergian. Pengalaman pertama saya naik kapal seperti ini terjadi pada 2023, waktu trip bersepeda dari Bangkok ke Cirebon, saat menyeberang dari Batam ke Jakarta.
Begitu naik, kita seperti masuk ke ruang publik yang sedang bergerak. Ada keluarga yang selalau makan bersama dengan bekal yang dibawa, orang tidur siang di mana saja yang memungkinkan, anak-anak lari di antara tempat tidur, dan obrolan antar penumpang gampang sekali dimulai.

Itu yang menurut saya bikin PELNI berbeda, karena sepertinya PELNI bukan cuma menghubungkan tempat dan jarak, tapi juga orang-orangnya.
Di perjalanan kali ini, saya bertemu banyak pekerja dari NTT yang sedang pulang dari perkebunan sawit di Kalimantan. Ada yang sudah berbulan-bulan, ada juga yang bertahun-tahun tidak pulang. Antusiasmenya terasa sekali, dari cara mereka tertawa, berbagi cerita, sampai menelepon keluarga.
Sedikit catatan soal kelas kapal
- Kelas 1 / 2 → berbasis kabin, lebih tenang, lebih nyaman
- Kelas Bisnis → tempat tidur sudah ditentukan, kenyamanan lumayan
- Kelas Ekonomi → ruang bersama besar, paling sosial
Saya ambil Kelas 2, dan itu cukup terasa bedanya untuk perjalanan laut yang panjang.
Kerja dari atas kapal
Biasanya ada WiFi di area kafetaria dengan harga yang cukup terjangkau. Memang tidak sempurna, tapi cukup buat kerja ringan.
Sebagai remote worker sangat membantu saya untuk masih terhubung dengan “dunia luar” untuk urusan kerjaan.. Waktu yang biasanya terasa seperti waktu mati jadi tetap bisa dipakai.
Penyeberangannya sendiri sudah menjadi bagian dari trip. Saya menghabiskan banyak waktu di dek, lihat laut, dan mengecek sepeda lebih sering dari yang sebenarnya perlu.
Menyeberang ke Maumere dengan kapal PELNI
Untuk trip ini, Maumere terasa paling masuk akal sebagai pintu masuk NTT.
Flores memang lebih enak didekati pelan-pelan. Orang bisa datang ke sini untuk daerah gunung dan bukit, diving, wisata rohani Katolik, kampung nelayan, atau cuma karena ingin bergerak di lanskap yang nyaris tidak pernah benar-benar datar denagn bukit-bukitnya. Kebanyakan orang lebih tahu Flores bagian barat daripada timur. Labuan Bajo selalu jadi sorotan. Flores Timur terasa lebih sunyi.
Beberapa bulan sebelumnya, saya sempat mengunjungi museum manusia purba di Jawa, dan dari situ ketertarikan saya pada arkeologi dan evolusi manusia makin membesar. Flores, yang dikenal karena Homo floresiensis, menambah lapisan rasa penasaran lain dalam perjalanan ini. Membayangkan bagaimana dulu manuasia purba beraktivitas di rute yang sama saya bersepeda.

Seperti biasa, saya bawa barang seringan mungkin. Tantangannya bukan cuma soal berat, tapi juga akses. Jas hujan harus gampang dijangkau. Barang elektronik harus tetap kering. Karena saya juga tetap kerja selama perjalanan, saya perlu semuanya rapi, jadi packing sacks sudah jadi barang penting buat saya.
Setelah tiba, saya menginap dua malam di Maumere. Rasanya punya jeda itu penting apalagi setelah perjalanan lama di atas kapal, ditambah proses turun dari kapal juga makan waktu.
Di hari istirahat itu, saya sempat bersepeda keliling kota dan mampir ke La Maffa Coffee and Roastery untuk mencoba kopi khas Flores.
Kalau punya waktu lebih, Taman Doa Maria Bunda Segala Bangsa punya suasana yang tenang dengan pemandangan indah di sekitaran Maumere.
Saat hal tak terduga datang: Gunung Lewotobi erupsi lagi
Tepat sebelum saya lanjut ke arah timur, situasi di sekitar Gunung Lewotobi kembali berubah. Ada letusan lagi, dan seperti biasa kalau bicara soal aktivitas vulkanik di Indonesia, dampakna tidak bisa diprediksi. Kondisi jalan ikut berubah, kualitas udara ikut terpengaruh, rutinitas warga ikut bergeser, dan tingkat ketidakpastian buat para pelancong juga naik. Saya mengikuti laporan lokal, termasuk pembaruan seperti dari Detik.com, sambil menunggu apakah masih masuk akal untuk tetap lanjut.
Dengan melihat kondisi arah angin, dan rute yang akan saya jalani cukup jauh dari letusan, Saya mulai bersepda ke arah timur pada 3 Agustus 2025.

Walaupun jauh dari pusat letusan, ada beberapa desa yang saya lalui terkedan dampak, tertutup abu dan debu.
Bersepeda di pantai utara Flores

Bersepda Mauere menuju Larantuka inilah inti dari trip kali ini, selain memang jarak bersepda terjauh yakni sekitar 124 Km.
Pantai utara Flores punya tipe jalan yang bikin mata terus terdistraksi dari setang speda. Di satu sisi ada air laut biru, di sisi lain ada bukit dan kampung, lalu sesekali terbuka ruas panjang saat garis pantai melengkung menjauh dan hari terasa seperti terbentang lebar di depan. Ini mungkin bukan rute sepeda paling terkenal di Indonesia, tapi menurut saya seharusnya lebih sering dibicarakan.
Yang bikin garis pantai ini makin spesial adalah rasanya masih cukup alami. Ada banyak bentang pantai sepi yang nyaris tanpa orang, tanpa resort, tanpa keramaian, cuma kampung nelayan kecil dan tepi laut yang terbuka. Dibanding Flores bagian barat, wilayah ini terasa jauh lebih belum tersentuh/

Hal yang paling saya suka adalah cara rute ini terus bergerak antara usaha dan ajakan untuk berhenti. Satu momen saya fokus ke permukaan jalan, panas, dan tanjakan berikutnya. Lalu beberapa menit kemudian ada orang melambaikan tangan, tanya saya mau ke mana, atau tertawa melihat absurdnya sepeda penuh barang di bawah terik matahari Flores Timur.

Anak-anak biasanya yang paling duluan mendekat langsung karena penasaran. Saat naik sepeda, kita memang terbuka dengan cara yang tidak mungkin terjadi kalau naik mobil. Orang bisa melihat ritme kita, barang bawaan kita, capeknya kita, dan kesiapan kita untuk berhenti. Interaksinya jadi beda. Kita bukan lagi sekadar orang yang lewat, tapi orang yang mereka bisa amati gerak-geriknya secara langsung.
Salah satu momen favorit saya terjadi di tepi pantai, ketika beberapa anak yang dari tadi memperhatikan saya akhirnya malah “merayu” saya turun ke air untuk berenang bersama.
Kelihatannya sepele, tapi justru hal-hal seperti itu yang biasanya paling lama diingat dari sebuah trip. Bukan hitungan kilometernya, tapi kenangan dari interkasi dengan anak-anak yang saya temua.
Saya banyak berhenti di sepanjang jalan, sering kali cuma untuk berenang. Beberapa tempat berhentinya spontan, beberapa lainnya sempat saya catat:
- Pantai Patiahu
- Deretan pantai tanpa nama di sekitar kampung nelayan ini
Kampung nelayan itu cukup menarik perhatian saya. Komunitas di sana punya akar dalam tradisi pelaut Bugis, yang secara historis dikenal sebagai salah satu penjelajah maritim paling andal di Indonesia dan berasal dari Sulawesi Selatan. Koneksi dengan laut itu masih terasa dari tata kampungnya maupun dari cara hidup di sana berputar di sekeliling laut.
Menariknya lagi, saya juga melihat sebuah mushola kecil di area itu, sesuatu yang cukup menonjol karena sebagian besar Flores dikenal berpenduduk Katolik. Detail kecil, tapi jadi pengingat bahwa pulau-pulau di Indonesia ini sangat beragam.
Larantuka: tenang, dekat laut, dan bikin ingin tinggal lebih lama

Setelah bersepeda ke timur, saya menginap dua malam di Larantuka.
Energi Larantuka terasa sangat berbeda dibanding Maumere. Larantuka paling dikenal sebagai tujuan wisata religi agama Katolik, tapi keindahan alamanya pun sangat membuat nyaman. Air lautnya indah, suasananya lebih tenang dibanding banyak kota pelabuhan lain di Indonesia.
Selain terkenal dengan wisata religi, Larantuka juga dikenal sebagai titik transit. Larantuka sering dipakai sebagai gerbang dengan pulau-pulau sekitar seperti Alor. Tapi menurut saya Larantuka menawarkan lebih dari itu. Banyak spot-spot snorkeling yang cantik tak jauh dari pusat kota. Pemandangan menarik dari bangunan-bangunan dari jaman Protugis dulu dan juga ada Gunung Ile Mandiri yang berdiri gagah. Kalau tidak karena keterbatasan waktu, ingin rasanya berhenti lebih lama.
Rute penyebrangan laut
Secara umum, ada dua jenis transportasi laut utama:
PELNI (kapal penumpang jarak jauh) Ini yang menghubungkan pulau-pulau besar di Indonesia. Lebih lambat, lebih sosial, dan sering jadi tulang punggung rute antarpulau yang panjang.
Feri ASDP dan speed boat (rute jarak dekat) Ini biasanya beroperasi di antara pulau-pulau yang jaraknya berdekatan. Feri lebih fleksibel dan ramah kendaraan (bisa mengangkut Mobil dan motor), sementara speed boat mengutamakan kecepatan tapi punya lebih banyak keterbatasan. Operator seperti Express Bahari cukup umum dipakai untuk rute penumpang yang lebih cepat.
Tantangannya, sistem ini nggak selalu bisa ditebak. Jadwal bisa berubah, keterlambatan itu biasa, dan informasi dari satu sumber ke sumber lain kadang tidak konsisten. Trip di wilayah seperti ini butuh pola pikir yang berbeda: rencana itu penting, tapi kemampuan menyesuaikan diri jauh lebih penting. Dalam pengalaman saya, justru sistem laut inilah yang menjadi bagian dari rutenya sendiri. Informasi di website juga tidak selalu bisa diandalkan penuh. Khusus feri ASDP, lebih aman pantau update mereka lewat Instagram ASDP Kupang. Mereka juga cukup responsif kalau ditanya lewat DM.
1. Makassar ke Maumere dengan PELNI
Untuk perjalanan antarpulau jarak jauh di Indonesia, PELNI tetap jadi salah satu opsi yang paling utama. Rute saya dari Makassar ke Maumere memakai KM Siguntang, dipesan lewat portal resmi PELNI: pelni.co.id/reservasi-tiket.
Kalau kamu road trip dengan sepeda, ada beberapa hal yang penting:
- Beli tiket penumpang dulu, lalu terus pantau jadwal karena jam kapal bisa berubah.
- Datang ke pelabuhan lebih awal dari yang kamu kira perlu.
- Tanya dengan jelas sepeda harus dicek atau disimpan di mana.
- Bawa strap, atau minimal siap mengamankan barang-barang yang mudah lepas dari sepeda.
- Simpan barang berharga dan elektronik (jangan ditinggal di sepeda)
2. Flores ke Kupang dengan PELNI
Pada 5 Agustus 2025, saya lanjut ke Kupang dengan KM Tidar.
Bagian ini penting karena menghubungkan Flores ke Timor tanpa memaksa saya untuk putar balik atau naik pesawat. Buat pelancong yang suka overland trip, perpindahan seperti ini yang membuat Indonesia timur terasa tersambung, bukan terpecah-pecah. Titik keberangkatan dan jadwal pastinya bisa beda tergantung kapal dan musim, jadi saya lebih suka memikirkan semuanya sebagai sistem daripada terpaku pada jam berangkat yang kaku. Sistemnya sederhana: cek PELNI, konfirmasi lagi mendekati hari keberangkatan, dan sisakan cukup fleksibilitas di rencana penginapan.
3. Kupang ke Rote: feri lambat atau speed boat
Dari Kupang, saya menyeberang ke Rote pada akhir pekan 9 Agustus 2025 dengan feri lambat. Saya balik lagi pada 11 Agustus dengan speed boat. Kombinasi yang sangat bisa dinikmati utnuk mencoba jenis penyebrangan yang berbeda.
Feri lambat memberi rasa penyeberangan antarpulau yang klasik. Lebih pelan, lebih fungsional, tidak terlalu elegan, tapi jauh lebih ramah kalau kamu bawa barang besar dan ingin pengalaman yang lebih murah. Untuk rute ini, platform pemesanan resmi ASDP ada di ferizy.com.

Speed boat kebalikannya. Lebih cepat, lebih bersih, lebih direct, dan berguna kalau mau hemat waktu pas perjalanan pulang. Untuk rute cepat ini, operator yang perlu dicek adalah Express Bahari.
Buat pesepeda atau pelancong yang menjalani trip multimoda yang panjang, menurut saya kombinasi ini cukup masuk akal: berangkat pelan saat tidak sedang buru-buru dan ingin tetap fleksibel, lalu pulang lebih cepat ketika harus kembali ke ritme kerja atau mengejar penerbangan berikutnya.
Tiba di Kupang

Setelah tiba di Kupang, saya tinggal tiga malam dan memakai sebagian waktunya untuk bekerja.
Salah satu alasan saya masih betah kerja sebagai “freelance” adalah momen “shifting” dari mode travelling ke mode rutinitas. Kita bangun di kota yang baru, buka laptop, melaksanan panggilan kerja dan hal lainnya. Di Kupang, kontras itu terasa cukup kuat. Kota ini cukup sibuk karena sebagai Ibu kota Provinsi.
Salah satu tempat favorit saya untuk kerja adalah My Kopi-O Kupang. Tempatnya santai, enak buat fokus beberapa jam, dan kalau bertahan sampai sore, pemenangan menjelang sunset di sana bikin suasananya makin enak.
Di luar kerja, saya suka menghabiskan sore hari di Pantai Pasir Panjang yang selalu ramai. Tempat ini jadi favorit warga lokal untuk olahraga, main voli, lari di tepi pantai, atau sekadar duduk lihat matahari turun. Ini semacam ruang publik yang dipakai penuh oleh orang-orang.
Untuk urusan makan, saya beberapa kali balik ke Kampung Solor, yang terkenal dengan ikan bakar segarnya.
Pelabuhan di Kupang
Kalau kamu mau lanjut perjalanan laut, ada satu hal praktis yang penting: Kupang punya lebih dari satu pelabuhan.
Pelabuhan Kupang Pelabuhan utama untuk kapal PELNI dan juga dipakai operator seperti Express Bahari.
Pelabuhan Bolok Dipakai untuk feri ASDP, rute yang lebih lambat dan ramah kendaraan seperti Kupang → Rote.
Tahu pelabuhan mana yang harus didatangi dari awal bisa sangat menghemat tenaga, apalagi kalau bergeraknya sambil bawa sepeda.
Kupang mungkin bukan highlight yang paling sering dibicarakan orang, tapi buat saya kota ini adalah jeda yang penting. Tempat untuk reset, kerja, dan bersiap sebelum lanjut ke Rote lalu menutup perjalanan.
Sampai di Pulau Rote

Rote terasa seperti sebuah embusan napas panjang. Selalu pensaran dengan pulau berpenduduk di garis pantai paling selatan Indonesia. Saya tinggal dua malam di sana, yang jelas masih kurang, tapi cukup untuk paham kenapa banyak orang bisa tertahan lebih lama dari rencana di sana.
Rote punya tipe keindahan yang tidakbutuh dramatisasi. Bukit-bukit kering, air yang jernih, jalan yang sepi, pantai-pantai indah, dan ruang yang cukup untuk merasakan tubuh mulai melambat. Tempat ini bukan cuma indah, tapi juga melegakan.
Di hari pertama, saya naik feri lambat dan tiba di Pelabuhan Pantai Baru. Dari situ, jaraknya sekitar 40 km ke Ba’a, kota utama di Kabupaten Rote Ndao. Kebanyakan pelancong yang datang dengan speed boat biasanya mendarat lebih dekat ke Ba’a, jadi wilayah itu memang lebih umum dipakai sebagai hub di pulau ini.
Rute dari Pantai Baru memberi saya perkenalan yang tenang dengan Rote, dengan lalu lintas yang lebih sedikit, lanskap yang lebih terbuka, dan transisi yang pelan ke ritme pulau ini.
Saya menginap di DJ Kost, tempat yang sederhana tapi nyaman. Pemiliknya sangat membantu dan ikut mengaturkan sewa motor untuk saya di hari berikutnya. Mereka juga punya opsi menginap jangka lebih panjang, jadi tempat ini cocok kalau ingin benar-benar melambat dan tinggal lebih lama di Rote.
Karena saya cuma punya dua malam, saya sedikit menyesuaikan agenda saya. Di hari kedua, saya sewa motor supaya bisa menjangkau lebih banyak bagian pulau. Rote bukan pulau kecil, dan kalau semuanya ditempuh dengan sepeda, saya butuh waktu yang lebih panjang.
Hari itu saya sempat mampir ke beberapa tempat:
- Nembrala Beach
- Boa Beach
- Telaga Nirwana

Rote juga dikenal sebagai salah satu destinasi surfing di Indonesia, terutama di sekitar Nembrala. Puas sekali rasanya mandi di pantai-pantai di rote. Lebih dari itu, saya suka atmosfer pulau ini.
Tips praktis bawa sepeda untuk trip di Indonesia
Di akhir perjalanan, saya terbang ke Surabaya dan mengirim sepeda pulang ke kampung halaman. Saya sudah beberapa kali melakukan trip sepeda di Indonesia, dan sejauh ini saya selalu cocok dengan layanan Indah Logistik. Harganya terjangkau, mereka cukup terbiasa menangani barang yang bentuknya canggung seperti sepeda.
Ada satu layanan tambahan yang menurut saya berguna, yaitu wrapping sepeda untuk perlindungan ekstra. Dengan biaya sekitar IDR 50.000, mereka akan membungkus sepeda dengan rapi sebelum dikirim. Cukup memberi rasa tenang, apalagi untuk pengiriman antarpulau yang lebih panjang.
Kekurangan utamanya ada di waktu pengiriman. Perkiraan tibanya kadang tidak terlalu pasti, terutama kalau kirim lintas pulau. Biasanya tetap sampai dalam waktu yang masuk akal, tapi kita memang harus nyaman dengan sedikit fleksibilitas dan jangan terlalu bergantung pada tanggal tiba yang presisi. Sebagai gambaran, dari Kupang ke Cirebon waktu itu butuh kurang dari dua minggu, yang menurut saya masih sangat masuk akal untuk harganya.
Seiring waktu, saya sudah mencoba beberapa cara untuk memindahkan sepeda di Indonesia. Masing-masing punya tempatnya sendiri, tergantung rute, anggaran, dan seberapa besar toleransi kita terhadap kerepotan.
✈️ Naik pesawat dengan sepeda
Naik pesawat dengan sepeda adalah opsi paling cepat, tapi ada beberapa konsekuensinya:
- Sepeda perlu dipacking atau diboks
- Bisa kena biaya bagasi tambahan
- Penanganan di bandara kadang tidak konsisten
- Menambah satu lapis kerepotan di ujung perjalanan yang panjang
Opsi ini cocok kalau kamu butuh cepat, tapi belum tentu jadi yang paling nyaman.
📦 Kirim lewat Indah Logistik
Kalau saya bisa merencanakan lebih awal dan punya waktu sebelum tiba di tujuan, ini biasanya jadi pilihan favorit saya.
Saya sudah memakainya di beberapa trip, termasuk mengirim sepeda lebih dulu ke Makassar untuk perjalanan ini, dan sebelumnya juga ke Lombok. Keunggulannya:
- Terjangkau
- Cukup andal untuk pengiriman antarpulau
- Sudah terbiasa menangani barang besar seperti sepeda
Trade-off-nya ada di waktu. Sepeda harus dikirim lebih awal, dan kita harus menerima kemungkinan ada sedikit ketidakpastian soal kapan tepatnya barang tiba.
🚌 Naik bus dengan sepeda
Bus bisa jadi opsi yang ternyata cukup praktis untuk rute pendek sampai menengah.
Saya pernah naik bus dari Jawa ke Denpasar, dan beberapa operator mengizinkan sepeda:
- Biaya tambahan sekitar IDR 150.000
- Sepeda disimpan di bagasi bawah
- Sampainya bareng dengan kita
Tapi tidak semua bus mengizinkan ini, terutama bus premium atau sleeper. Jadi tetap wajib konfirmasi dulu.
🚆 Logistik kereta (KAI Logistik)
Untuk rute di dalam Jawa, KAI Logistik adalah opsi yang menjanjikan.
Dibanding jasa logistik biasa:
- Pengiriman lebih cepat
- Waktu tiba lebih bisa diprediksi
- Terbatas hanya untuk destinasi yang terhubung jaringan kereta
Saya pernah memakai layanan ini saat bepergian ke Yogyakarta.
Membawa sepeda di kapal
Untuk trip antarpulau, kapal sering jadi opsi yang paling fleksibel.
🚢 PELNI (kapal penumpang jarak jauh)
Untuk rute panjang seperti Makassar → Maumere atau Flores → Kupang:
- Sepeda umumnya diperbolehkan
- Bisa dianggap bagasi tambahan atau ditangani terpisah
- Sebaiknya datang lebih awal dan tanya dengan jelas di pelabuhan
Ini salah satu cara paling mudah untuk memindahkan diri sendiri sekaligus sepeda dalam jarak jauh.
⛴️ Feri ASDP (penyeberangan pendek)
Untuk penyeberangan yang lebih pendek seperti Kupang → Rote:
- Sangat ramah untuk sepeda
- Juga biasa dipakai motor dan mobil
- Bisa dipesan lewat ASDP / Ferizy
Ini opsi paling straightforward kalau kamu sedang menjalani road trip yang benar-benar berkelanjutan.
🚤 Speed boat (misalnya Express Bahari)
Untuk rute penumpang yang lebih cepat seperti Rote → Kupang:
- Waktu tempuh lebih singkat
- Ruang lebih terbatas
- Beberapa operator mengizinkan sepeda, tapi harus dikonfirmasi dulu
Operator seperti Express Bahari memang lebih fokus ke penumpang, jadi fleksibilitasnya tergantung rute dan kru di lapangan.
Kalau memungkinkan, saya lebih suka memisahkan penerbangan terakhir dari sepeda.
Terbang tanpa harus membawa sepeda yang sudah diboks biasanya lebih simpel, dalam banyak kasus juga lebih murah, dan jelas lebih ringan saat kita sudah berada di ujung trip yang panjang. Mengirim sepeda pulang juga berarti perjalanan bisa ditutup tanpa satu lapis stres tambahan di bandara.
Untuk perjalanan ini, keputusan itu terasa sangat tepat.