7 Hari Solo Trekking Annapurna Circuit Trek

22–29 November 2025
Annapurna Circuit Trek (ACT) terkenal sebagai salah satu rute favorit para pendaki dengan pemandangan menawan. Di perjalanan ini, karena keterbatasan waktu, saya tidak bisa melakukan rute secara penuh, dan hanya memfokuskan pada bagian daerah dataran tinggi, yaitu: Manang, Tilicho Lake, Thorong La Pass, lalu turun ke Muktinath.
Artikel ini adalah catatan ringkas dari pengalaman: bagaimana saya mengurus permit sebagai solo trekker, memilih pilihan transportasi, mengatur aklimatisasi, menghadapi kondisi jalur yang sulit, dan estimasi biaya yang dikeuarkan..
Overview
- Memilih rute untuk ACT
- Mengurus Perizinan dan Itinerary
- Memilih transportasi untuk ACT
- Rekomendasi Akomodasi selama trekking
- klimatisasi yang harus diperhatikan
- Hat-hati dengan kondisi trail yang tidak bisa diprediksi dan membahayakan
- Cerita dari hari melelahkan sesampai Yak Kharka
- Barang-barang yang perlu diperhatikan
- Dataran tinggi Dana Tilicho dan Thorong La Pass
- Estimasi Pengeluaran
Memilih rute untuk ACT
Annapurna Circuit umumnya ditempuh 18–21 hari, dimulai dari Besisahar ke Pokhara melewati Thorong La Pass (5.416 m). Banyak itinerary juga memasukkan destinasi seperti Ice Lake atau Tilicho Lake, lalu turun perlahan melalui Mustang dan sungai Gandaki Valley.
Saya memilih rute parsial, fokus ke:
- Manang untuk aklimatisasi
- Danau Tilicho
- Thorong La Pass (point tertinggi)
- Muktinath
Dengan rute ini, saya tetap bisa merasakan bagian yang menurut saya paling menantang dari Annapurna Circuit, tanpa harus melalui rute penuh.
Mengurus Perizinan dan Itinerary
Kathmandu dan Pokhara adalah dua kota utama di Nepal, termasuk untuk destinasi pariwisata. Saya memulai trek dari Pokhara. Bisa juga start dari Kathmandu. Tapi intinya sama: target logistik pertama adalah mencapai area Besisahar, karena itu pintu masuk utama ke bagian utara Annapurna Circuit.
Untuk trek ini, saya mengurus Annapurna Conservation Area Permit (ACAP) secara online. Sebenarnya bisa juga mengurus offline dengan datang ke kantor ACAP di Pokhara. Lokasinya dekat Tourist Bus Park, jadi praktis kalau kamu sekalian mau beli tiket bus ke Besisahar (sangar direkomendasikan membeli sebelum hari perjalanan).
- Online permit system: https://epermit.ntnc.org.np/
- Cost: NPR 3,000
- Permit validity: single entry, date-specific
- Must be carried with passport at all times
Ijin Permit saya dicek beberapa kali di sepanjang rute.
Total trekking: ~113 km
Maksimal ketinggian 5,416 m
Jumlah langkah kaki: ~170,000
Berikut itinerary saya:
| Date | Activity |
|---|---|
| 22/11 | Bus Pokhara → Besisahar, shared jeep to Chame |
| 23/11 | Chame → Manang (32 km) |
| 24/11 | Acclimatization hikes around Manang (10 km) |
| 25/11 | Manang → Tilicho Base Camp (15 Km) |
| 26/11 | Tilicho BC → Tilicho Lake → Yak Kharka (30,5 Km) |
| 27/11 | Yak Kharka → Thorong Phedi (7,5 Km) |
| 28/11 | Thorong Phedi → Thorong La → Muktinath (15,3 Km) |
| 29/11 | Van Muktinath → Pokhara |

Memilih transportasi untuk ACT

Sebagai solo traveller, saya sengaja aktif bertanya dan ngobrol dengan trekker lain, utamanaya ketika dalam perjalanan. Dari sana, saya menemukan empat orang yang juga berencana start trekking dari Chame. Begitu tahu tujuan kami sama, langkah berikutnya jadi jauh lebih mudah.
Sesampainya di Besisahar, biasanya sudah ada beberapa pemilik jeep yang menunggu penumpang ke arah utara. Di sini, kuncinya adalah negosiasi. Jangan langsung ambil harga pertama. Kami ngobrol langsung dengan beberapa driver, bandingkan harga, lalu deal di angka yang masuk akal karena kami berlima berbagi jeep.
- Biaya patungan sewa Jeep: NPR 2,500 per person (Besisahar → Chame)
Jeep ride-nya sendiri panjang dan cukup melelahkan, tapi masih oke mengingat kondisi jalan. Tantangan terbesar justru sudah mulai lebih dulu saat perjalanan bus: bus kami rusak dua kali, sehingga kami harus berhenti mendadak dan pindah kendaraan di tengah jalan. Setiap kali pindah bus, situasi jadi agak kacau — terutama saat memindahkan barang cepat-cepat dan rebutan ruang.

Sekitar 20 km terakhir paling mengesankan. Pilihan transport terbatas, jadi kami naik bus lokal yang sudah penuh. Dan banyak penumpang (termasuk kami) berdiri sepanjang jalan, bercampur dengan warga lokal dan barang bawaan. Di jalan pegunungan yang tidak rata, berdiri lama itu butuh fokus dan tenaga ekstra.
Pelajaran penting dari hari perjalanan dengan Bus dan Jeep:
- Aktif tanya-tanya di lapangan itu sangat membantu disampaing juga sudah riset online
- Jangan terima harga pertama untuk jeep
- Siapkan mental untuk hal-hal yang tidak terduga dalam perjalanan
- Barang penting/berharga sebaiknya selalu dalam pengawasan.
Tidak nyaman, iya. Tapi ini bagian dari realita perjalanan di Nepal. Fleksibel, sabar, dan cepat beradaptasi itu sama pentingnya dengan rencana trekking.
Rekomendasi Akomodasi selama trekking
Salah satu keuntungan praktis trekking di Annapurna Circuit (dan banyak trek populer lain di Nepal) adalah ketersediaan akomodasi di banyak titik jalur. Rute ini ditopang sistem tea house, yaitu lodges/hotel kecil yang menyediakan kamar dan makanan. Standarnya bervariasi tergantung lokasi dan ketinggian, tapi sistem ini membuat trek bisa dilakukan tanpa membawa tenda dan perlengkapan camping.
Secara umum:
- Di elevasi lebih rendah, akomodasi cenderung lebih nyaman
- Makin tinggi, kamar makin sederhana, dan biaya makin mahal
- Area “dining” biasanya jadi “pusat sosialisasi” karena di situlah ada pemanas alami
Sebelum trek, saya juga baca pengalaman terbaru dari trekker lain di grup Facebook. Banyak info praktis yang relevan: kondisi penginapan, seberapa ramai, jalur mana yang licin, dan tempat mana yang sedang buka.
Selain itu, saya juga melakukan mapping sederhana untuk memperkirakan stop yang masuk akal berdasarkan:
- jarak harian
- kenaikan elevasi
- opsi “plan B” kalau kondisi memburuk
Berdasarkan pengalaman saya, ini tempat yang saya rekomendasikan:
Chame:
Eagle Eye Hotel
Enak untuk recovery setelah perjalanan panjang dari Besisahar. Makanannya oke, hangat, dan jadi base yang bagus sebelum naik ke dataran lebih tinggi.Manang:
Mountain Lake Resort
Manang adalah titik aklimatisasi penting. Stay di tempat yang nyaman sangat membantu. Dining area-nya juga enak untuk ngobrol dan tukar info kondisi jalur dengan trekker lain.Yak Kharka:
Thorong Peak Hotel
Di ketinggian ini, ekspektasi harus realistis. Tempat ini cukup untuk shelter, makan hangat, dan istirahat — yang paling penting menjelang hari-hari berat.Thorong Phedi:
New Hill Top Restaurant
Ini stop strategis sebelum Thorong La. Fasilitas sederhana, tapi lokasinya ideal untuk start sangat pagi.Muktinath:
Hotel Holy Land
Setelah Thorong La, Muktinath terasa seperti “kembali ke peradaban”. Tempat ini nyaman untuk recovery, makan proper, dan bisa bantu urus transport balik ke Pokhara.
Untuk Tilicho Base Camp, saya tidak punya pengalaman yang menyenangkan soal akomodasi, jadi saya tidak bisa merekomendasikan lodge tertentu. Di area ini kualitas bisa berbeda-beda, opsi juga lebih terbatas, jadi sebaiknya siap mental dan fleksibel.
Kesimpulannya: dengan kombinasi info terbaru dari trekker lain, mapping sederhana, dan fleksibilitas di lapangan, mencari tempat menginap di Annapurna Circuit relatif mudah. Bahkan tanpa booking jauh-jauh hari (kecuali kamu trekking di peak season dan ingin ekstra aman).
Aklimatisasi yang harus diperhatikan
Manang adalah hub aklimatisasi utama di Annapurna Circuit, dan itu masuk akal. Dengan ketinggian sekitar 3.500 mdpl, Manang sering menjadi titik pertama di mana trekker menghabiskan waktu cukup lama di altitude yang signifikan. Setelah ini, kenaikan elevasi makin terasa, dan “margin for error” makin kecil.
Panduan medis untuk trekking menekankan bahwa penyakit ketinggian biasanya disebabkan kurang aklimatisasi, bukan kurang fit, dalam bahasa medis disebtu Acute Mountain Sickness (AMS). Trekker yang sangat fit pun bisa kena AMS kalau naik terlalu cepat. Prinsip yang umum dipakai:
- Di atas 3.000 m, kenaikan sleeping altitude idealnya maksimal 300–500 m per hari
- 1 hari rest/aklimatisasi tiap 3–4 hari sangat disarankan
Aklimatisasi itu proses adaptasi bertahap. Tubuh butuh waktu untuk:
- meningkatkan frekuensi napas agar intake oksigen lebih baik
- meningkatkan produksi sel darah merah untuk membawa oksigen
- menyesuaikan keseimbangan cairan dan “chemistry” tubuh
Hal-hal ini butuh waktu, bukan dipaksa untuk lebih cepat.
Karena itu, saya mengambil 1 hari penuh di Manang untuk active acclimatization, bukan hanya istirahat seharian. Targetnya mengikuti prinsip “climb high, sleep low” — naik sedikit siang hari, tidur tetap di elevasi Manang.
Saya melakukan short hike ringan ke:
- Praken Gompa
- Praken Viewpoint
- Gangapurna Lake
- Monastery
Kesan dari Danau Tilicho
Danau Tilicho adalah salah satu danau tertinggi di dunia, dengan ketinggian 4,919 meter di atas permukaan laut. Aklimatisasi ini makin penting kalau kamu mau ambil mengunjungi destinasi Tilicho Lake. Belakangan banyak trekker yang mengambil jeep/private vehicle dari Manang ke desa Khangsar, setelah Manag. Lalu mulai jalan dari sana. Memang jaraknya jadi lebih pendek, tapi aklimatisasi jadi lebih “padat” dan risiko meningkat kalau tubuh belum siap.
Di trek saya, saya ketemu beberapa trekker yang melakukan cara ini. Sebagian bisa sampai Tilicho Base Camp, tapi tidak lanjut ke Tilicho Lake, karena:
- kelelahan + efek altitude
- kondisi jalur (es, exposed, potensi landslide)
- cuaca berubah dan faktor safety
Intinya: naik kendaraan tidak mengurangi stres fisiologis. Kaki mungkin terasa segar, tapi tubuh belum tentu sudah adapt.
Efek rest day saya di Manang terasa jelas di hari-hari berikutnya. Menuju Tilicho Base Camp dan lanjut ke rute Thorong La terasa lebih mudah: napas lebih stabil, tidur lebih baik, energi lebih konsisten.
Dan yang penting: aklimatisasi itu individual. Ada yang cepat adapt, ada yang tidak. Hidrasi, tidur, riwayat altitude, sampai kondisi badan (misalnya habis sakit) berpengaruh.
Jadi, jangan kejar jadwal sampai mengorbankan aklimatisasi. Di trek ketinggian, menyesuaikan rencana dengan kondisi tubuh itu bukan “lemah”. Malah itu keputusan bijaksana.
Hat-hati dengan kondisi trail yang tidak bisa diprediksi dan membahayakan

Bagian jalur menuju Yak Kharka adalah salah satu yang paling berbahaya karena kondisi jalur, bukan karena altitude saja. Banyak bagian tertutup es padat, lumpur beku, dan salju keras.
Bahkan pakai microspikes pun, jalur tetap sangat licin. Di banyak titik, jalur sempit, tidak rata, dan miring ke arah bawah. Jatuh di sini bisa jadi cedera serius.
Microspikes membantu menambah grip, tapi tidak menghilangkan risiko. Trekking pole sangat membantu untuk keseimbangan, dan penempatan kaki jauh lebih penting daripada cepat.
Karena keterbatasan waktu. Saya trekking cukup cepat dan tidak punya banyak hari lebih. Karena itu, saya memutuskan lanjut trekking jauh dari Tilicho Base Camp sampai mendekati Yak Kharka dalam satu hari.
Dalam kondisi normal, banyak trekker akan memecah hari ini dan stop di Shree Kharka setelah kembali dari Tilicho Base Camp, karena:
- jarak harian lebih pendek
- recovery lebih realistis
- risiko karena kelelahan di jalur licin berkurang
Dengan nelwati istirahat di Shree Kharka, hari saya jadi sangat panjang dan berat, Pilihan yang kalau dipikir lagi, tidak saya rekomendasikan. Kelelahan ditambah jalur es adalah kombinasi yang meningkatkan risiko, bahkan kalau peralatan lengkap dan tubuh fit,
Saya bisa menyelesaikannya karena saya jalan pelan, sering berhenti, dan ekstra hati-hati. Tapi buat yang punya waktu lebih longgar, stop di Shree Kharka adalah opsi yang jauh lebih aman dan masuk akal, terutama saat kondisi jalur licin.
Cerita dari hari melelahkan sesampai Yak Kharka
Setelah hari panjang dan melelahkan menuju Yak Kharka, badan saya mulai merespon. Kombinasi kelelahan, udara dingin, dan altitude membuat saya lebih rentan dari yang saya kira. Malam itu di Yak Kharka, saya kena flu berat dan batuk terus.
Saya membawa obat batuk, tapi saya sadar persiapan saya belum lengkap. Saya tidak membawa sumplemen seperti permen pereda batuk, padahal sangat membantu untuk batuk dan tenggorokan kering — apalagi saat malam, udara dingin dan kering bikin batuk makin susah tidur,
Pagi harinya, seorang trekker dari Korea melihat kondisi saya dan sempat memastikan saya baik-baik saja sebelum dia melanjutkan trek. Dia menawarkan obat sederhana dari persediaannya sendiri. Hal kecil, tapi di tempat terpencil dan ketinggian seperti itu, perhatian seperti ini terasa besar.
Pelajaran yang saya bawa pulang:
- bawa obat flu yang lengkap
- bawa pereda tenggorokan untuk udara kering dan batuk
- bawa suplemen & elektrolit untuk bantu recovery
- jangan meremehkan efek kelelahan + paparan dingin
Di ketinggian, masalah kecil bisa cepat membesar kalau tubuh drop dan tidur berantakan.
Barang-barang yang perlu diperhatikan

Makin tinggi elevasi, makin terasa bahwa gear kecil bisa punya dampak besar. Secara umum packing saya cukup baik, tapi ada beberapa item yang benar-benar yang saya bersyukur membawanya, dan ada juga yang saya sesali.
Trekking poles itu wajib (buat saya)
Saya kehilangan trekking pole saat pindah bus. Dari Chame ke Manang saya jalan tanpa tongkat. Masih bisa, tapi setelah itu jalur makin licin dan curam. Saya beli lagi di Manang seharga NPR 1.500 (sepasang), dan sejak itu poles jadi alat penting, terutama untuk jalur es dan naikan dan turunan panjang.Insulated water flask
Salah satu item paling berguna. Bisa beli air panas dari lodge sebelum start pagi itu sangat membantu Air hangat membantu hidrasi, kenyamanan, dan mood saat cuaca menggigil.Neck gaiter
Saya sangat bersyukur bawa neck gaiter. Multifungsi: menghangatkan leher, menahan angin, dan bisa jadi pelindung wajah saat berangin/dusty.Beanie / penutup kepala hangat
Wajib buat pagi dan malam. Di altitude, panas tubuh cepat hilang, dan kepala termasuk area yang paling kerasa kalau tidak terinsulasi.Gloves: harus lebih tebal
Ini yang saya sesali. Saya bawa sarung tangan tipis yang awalnya untuk lari. Di elevasi rendah masih oke, tapi di area lebih tinggi dan berangin (terutama menjelang Thorong La), tidak cukup. Gloves yang lebih tebal dan insulated akan jauh lebih nyaman.
Intinya: gear yang terasa “opsional” di bawah bisa berubah jadi “krusial” di atas. Gloves, headwear, dan insulasi kecil bisa menentukan kenyamanan dan endurance secara signifikan.
Dataran tinggi Danau Tilicho dan Thorong La Pass

Tilicho Lake adalah salah satu highlight paling dramatis — tapi juga paling menuntut. Saya berangkat sekitar jam 4 pagi, sebelum sunrise. Alasannya simpel: pagi cenderung lebih “clear”, dan kondisi jalur sering lebih aman sebelum siang makin berangin dan cuaca berubah.
Jalan di gelap terasa sunyi dan dingin. Napas harus diatur pelan dan stabil. Ketika cahaya mulai naik, pemandangan terbuka: lanskap tandus, lereng bersalju, dan danau yang terasa sangat sakral.
Hal yang menurut saya menarik: dekat Tilicho Lake ada tea house kecil, jadi kamu bisa beli teh/kopi hangat. Setelah berjalan lama di suhu beku, hot drink ini rasanya seperti “reset”. Ini juga alasan kenapa saya selalu siapin cash kecil — di area seperti ini, cash praktis dan mempercepat transaksi.

Lewat titik tertinggi Thorong La Pass (5.416 m) adalah hari paling berat secara fisik. Saya juga start sekitar jam 4 pagi, pakai headlamp. Start pagi itu strategi safety dan kenyamanan. Di awal biasanya lebih tenang dan visibility lebih baik. Kalau start terlalu siang, angin cenderung lebih kencang dan kondisi bisa makin keras.
Naiknya terasa panjang, dingin, dan terasa tidak habis-habis. Di ketinggian itu, tanjakan ringan pun terasa berat. Saya jalan pelan, ritme stabil, dan banyak micro-break untuk napas dan menjaga suhu badan.
Di jalur menuju view point ada tea house di tengah jalan, dan ada juga tea house tepat di view point. Keduanya membantu: bisa minum hangat, berhenti sebentar, dan lanjut lagi. Lagi-lagi, uang cash kecil membantu agar stop singkat ini tidak jadi ribet.
Sampai di prayer flags puncak view point rasanya lebih ke “lega” daripada euforia. Dingin, angin, dan lelah terasa kuat, jadi saya tidak lama-lama di atas. Setelah itu turun ke Muktinath.
Tips praktis
Dua hari ini (Tilicho Lake dan Thorong La) memberikan beberapa pelajaran:
- Start pagi untuk cuaca lebih clear dan visibility lebih baik
- Start terlalu siang sering berarti angin lebih kencang dan kondisi lebih keras
- Siapkan cash (lebih enak kalau ada pecahan kecil)
- Pace pelan dan utamakan safety daripada kejar target
Highlight di ketinggian bukan soal “nyaman”. Ini soal persiapan, ketenangan, dan keputusan kecil yang benar di lingkungan yang tidak memberi banyak toleransi.
Estimasi Pengeluaran
Permit dan transport relatif mudah diprediksi, tapi pengeluaran harian sangat dipengaruhi oleh altitude, cuaca, selera makan, dan berapa lama kamu stay di tiap tempat. Umumnya, harga naik seiring ketinggian karena supply makin sulit.
Budget di bawah ini adalah gambaran dari pengeluaran saya sebagai solo trekker (tidak termasuk flight internasional dan belanja pribadi). Ini termasuk kamar, makan, minuman hangat, dan kebutuhan harian dasar.
Catatan konversi: untuk memudahkan pembaca Indonesia, saya pakai estimasi 1 NPR ≈ 120 IDR. Kurs bisa berubah, tapi ini cukup untuk perbandingan cepat.
| Item | Cost (NPR) | Estimasi (IDR) |
|---|---|---|
| Bus Pokhara → Besisahar | 600 | 72.000 |
| Jeep share to Chame | 2.500 | 300.000 |
| Spending in Chame | 1.750 | 210.000 |
| Spending in Manang (2 nights) | ~3.000 | ~360.000 |
| Spending in Tilicho Base Camp | 3.850 | 462.000 |
| Spending in Yak Kharka | 2.500 | 300.000 |
| Spending in Thorong Phedi | 3.000 | 360.000 |
| Spending in Muktinath | 2.500 | 300.000 |
| Van Muktinath → Pokhara | 1.800 | 216.000 |
Estimated total: ~22.500–24.000 NPR
Estimasi dalam Indonesian Rupiah: ~2.700.000–2.880.000
Beberapa catatan dari breakdown ini:
- Transport lebih murah kalau sharing. Negosiasi dan berbagi jeep menurunkan biaya cukup signifikan (terutama Besisahar → Chame).
- Biaya harian di atas itu dominan makanan/minuman, bukan kamar. Kamar kadang murah, tapi makan dan hot drinks yang bikin harga total naik.
- Makin tinggi, makin mahal. Tilicho Base Camp dan Thorong Phedi terasa lebih mahal dibanding Chame/Manang.
- Hot drinks itu mandatory Di cuaca dingin dan start pagi, teh/kopi/air panas jadi kebutuhan.
- Fleksibilitas mempengaruhi biaya. Kalau kamu tambah hari untuk aklimatisasi atau menunggu cuaca, cost naik — tapi seringkali itu trade-off yang layak untuk safety.
Kesan terakhir
Final Thoughts
Saya cukup sering menemukan “perdebatan” bahwa Annapurna Circuit dianggap belum selesai jika tidak dimulai dari titik awal tradisional dan dituntaskan penuh sampai Pokhara. Misalnya, jika mulai dari Chame dan selesai di Muktinath, trek tersebut dianggap kurang lengkap.
Namun pada kenyataannya, tidak semua orang memiliki waktu, kondisi fisik, atau sumber daya yang sama.
Bagi saya, yang terpenting bukan soal menyelesaikan rute secara utuh, tetapi bagaimana perjalanan itu dijalani dengan aman, penuh kesadaran, dan meninggalkan kesan yang kuat. Trek ini tetap memberi pengalaman yang mendalam. Dari tantangan altitude, keputusan-keputusan tidak terduga di jalur, hingga momen-momen tenang di tengah lanskap Himalaya.
Dan pada akhirnya, pulang dengan selamat sambil membawa cerita dan pelajaran baru adalah hal yang paling bernilai.